Senin, 23 April 2012

Perkembangan Islam di Bogo


    Bogo adalah nama sebuah desa kecil di kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. 30 tahun yang lalu ketika desa-desa lain sudah maju, masyarakat Bogo masih tertinggal dari segi SDM nya. Tingkat perekonomian, pendidikan bahkan keagamaan masih terbilang minim sekali. Sehingga tak heran jika sampai sekarang masyarakaat umum masih memandang Desa Bogo dengan sebelah mata.
      Hal ini dapat dibuktikan dengan kondisi masyarakat saat itu,misalnya di bidang pendidikan masih minim sekali bahkan hampir belum ada anak desa Bogo yang sekolah sampai perguruan tinggi. Di bidang perekonomian saat itu hampir 60 persen penduduknya adalah petani atau sekedar buruh tani. Sementara dibidang keagamaan, belum ada tempat peribadatan (masjid atau musholla) yang memadai. Berdasarkan cerita orang tua, masjid di desa bogo baru ada pada tahun 1984, jauh ketinggalan di banding desa-desa lain.
          Kemudian dibidang budaya, penduduk desa Bogo saat itu masih kental sekali dengan adat jawa yang berbau kemusyrikan, sehingga banyak orang bilang desa Bogo dulu mayoritas penduduknya adalah abangan, artinya banyak tidak mengenal agama.  Begitulah sekilas keadaan desa Bogo 30 an tahun yang lalu.
        Namun seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah dari para pendatang yang masuk desa Bogo khususnya melalui perkawinan, memunculkan tokoh-tokoh yang memiliki SDM (sumber daya manusia) yang lumayan. Sehingga sedikit demi sedikit masyarakat desa bogo mulai ada perubahan disemua bidang.
Salah satu tokoh yang ikut berjasa dalam perkembangan desa Bogo khusunya dibidang agama adalah beliau Almarhum Mbah Somoastro atau dikenal dengan julukan Mbah Kastun, seorang pelarian dari desa Glendeng Kalirejo Bojonegoro. Beliau adalah seorang veteran pejuang rakyat. Karena serangan penjajah Belanda yang masuk desa Kalirejo saat itu,dann aksi serdadu Belanda yang membakar rumahnya,  maka bersama istri dan kedua putranya, beliau melarikan diri di Desa Bogo.
           Bersama tokoh masyarakat Desa Bogo saat itu, beliau mulai ikut berperan memajukan Desa Bogo khususnya dibidang agama. Kedua anaknya diikutkan pendidikan agama di desa Bakalan. Disamping itu beliau juga mendirikan surau (musholla). Sehingga karena semakin tinggi kesadaran masyarakat Desa Bogo pada agama maka pada tahun 1984 dibangunlah sebuah masjid yang sangat sederhana dengan nama Masjid Miftahul Khoirot ,bertempat  di Dusun Jati Kulon atau sebelah rumah Mbah Soemoastro.  Dan sejak itulah putra-putra beliau ikut membantu perkembangan Islam di Desa Bogo. Disamping beliau masih ada beberapa tokoh lain yang juga ikut berperan penting dalam penyebaran Islam di Desa Bogo. Diantaranya Kyai Musiran, Kyai Sujak, dll.
          Keberadaan masjid yang baru ada pada tahun 1984 tentu sudah sangat ketinggalan dengan desa-desa lain dengan selisih puluhan tahun. Baru pada tahun 1992 diadakan renovasi, namun lagi-lagi karena minimnya ekonomi masyarakat Desa Bogo sampai sekarang (tahun 2012) bangunan masjid ini belum juga tuntas, baru 80%.
          Hal inilah yang mengetuk hati penulis bersama teman-teman remaja Masjid Miftahul khoirot Desa Bogo untuk terus mengembangkan Islam di Desa Bogo. Maka pada tahun 2001 dirikan lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ)  dan juga Madrasah Diniyah dengan nama “Al-Khoirot”.
Sudah  sepuluh tahun lebih lembaga ini berjalan dengan istiqomah. Meski mengalami naik turun baik secara kuantitas ( jumlah santri) maupun kualitas santrinya, namun Alhamdulillah lembaga ini sudah banyak berperan dalam syiar agama Islam di Desa Bogo.
Bersambung di sejarah TPQ

2 komentar:

  1. jangan lupakan sejarah... teruskan tadz perjuangannya... sukses selalu...

    BalasHapus
  2. Gmana mas ustad ttg lomba mendatang samprohan,yg di nilai apanya adja ya!!makasih infonya dari mas arsyad bogo

    BalasHapus